Pemeliharaan Secara Intensif
Prof. Dr. Dra. Peni Hardjosworo, M. Sc., menceritakan kepulangannya dari Padang. “Sama seperti beberapa tahun yang lalu, pemeliharaan itik di sana masih secara penggembalaan. Sebut saja itik Pitala, itiknya bagus, dan ini merupakan itik khas di sana. Dan kebiasaan masyarakat Bukittinggi pun, kalau ingin makan itik gulai hijau harus itik Pitala. Ini artinya, Pitala memiliki arti penting bagi masyarakat dari segi ekonomi maupun konsumsi,” ujar Peni.
Sekarang di Jawa, penggembalaan mungkin sudah berkurang, tetapi tujuan utama pemeliharaannya adalah menghasilkan telur atau itik potong belum fokus menghasilkan bibit. “Yang dilakukan peternak sepertinya memang itu. Selama menghasilkan telur masih bisa menikmati keuntungan besar, untuk menghasilkan bibit belum menjadi minat, karena memang membutuhkan waktu yang sangat lama,” katanya.
Kendala bibit
Menghasilkan bibit berarti harus menetaskan telur. Seperti yang kita ketahui, daya tetas itik sangat rendah berbeda dengan ayam, ada yang mengatakan daya tetasnya 70-80%. Namun ternyata, kata Peni, daya tetas telur itik hanya 50%. Bukan karena tidak bisa menetaskan, karena memang susah. “Kerabang telur yang tebal, itik yang jorok, bisa bertelur di mana saja, sehingga peluang dicemari oleh kuman sangat besar sekali. Oleh karena itu, sesuatu yang prosesnya lama pasti banyak peluang kegagalannya, walaupun kita tidak mengharapkan itu terjadi. Tetapi itulah kenyataannya, menghasilkan anak itik adalah pekerjaan yang susah dan mahal,” ungkap Peni.
Sebagai contoh, Peni menjelaskan, menetaskan 100 butir telur. Kemungkinan hanya bisa menjadi 50-60 anak, 30 jantan dan 30 betina. Ini jika betina bisa dibeli mahal, jika tidak? Salah satu kendala memang pembibitan. “Untuk berinvestasi pun bukannya tidak mungkin, tetapi jika menggunakan itik lokal, tahun pertama tidak mendapatkan keuntungan,” akunya.
Segmen usaha beternak itik petelur dan pembesaran itik jantan memerlukan bibit DOD. Harga DOD betina saat ini semakin mahal, sehingga memberikan peluang bagi peternak untuk dapat meraup untung besar. Sementara, DOD jantan semakin sulit ditemukan karena adanya anggapan bahwa DOD jantan hasil penetasan tidak berguna. Padahal DOD jantan sangat diperlukan peternak yang melakukan usaha pembesaran. Karena itu, peluang usaha dalam bidang pembibitan sangat terbuka.
Lebih lanjut Peni mengatakan, selama ini ternak itik hanya dipelihara untuk produksi telur sehingga yang berkembang selama ini adalah itik petelur, sedangkan produk daging itik masih belum banyak digemari konsumen karena daging itik mempunyai aroma sangat spesifik. Sebagian besar, pemeliharaan itik hanya sebagai kegiatan sambilan dan dilakukan secara tradisional ekstensif, sehingga sistem produksinya masih belum tertata dengan baik. “Sedangkan pemeliharaan itik secara intensif terkurung dan dengan orientasi telah mulai dilakukan oleh peternak namun dalam jumlah yang relatif masih sangat kecil. Sistem pembibitan masih belum tersedia dengan baik karena yang tersedia hanya penetas yang belum memperhatikan kualitas telur yang ditetaskan dan kualitas bibit yang dihasilkan,” urainya.
“Selama 3 tahun terakhir ini secara mendadak minat konsumen terhadap daging itik telah berubah dengan cepat dan permintaan terhadap menu makanan dengan daging itik meningkat dengan sangat tajam,” katanya. Menurutnya, peningkatan permintaan ini tidak dapat diantisipasi dan dipenuhi dengan baik oleh sistem produksi yang ada. Pada awalnya hanya itik jantan tipe petelur, entog, dan itik petelur betina afkir yang dijual sebagai itik potong penghasil daging, namun dengan permintaan daging itik yang begitu tinggi maka itik petelur betina dara maupun yang sedang produktif juga ikut dipotong dan dijual sebagai penghasil daging.
Data yang akurat tentang permintaan daging itik masih belum tersedia, namun tahun 2010 sebagian pedagang di sekitar Jakarta dan Tangerang mengklaim bahwa mampu menjual itik potong sebanyak 5.000 – 10.000 ekor per minggu. “Jika di daerah Jabodetabek terdapat minimal 25 pedagang semacam itu maka dapat dihitung lebih dari 200.000 ekor itik terserap per minggu sebagai itik potong. Dengan tingkat pemotongan seperti itu dikhawatirkan akan terjadi pengurasan sumberdaya genetik itik petelur yang ada, khususnya yang ada di Pulau Jawa. Hal ini terutama disebabkan tidak tersedianya sistem produksi dengan kapasitas yang memadai untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut. Kapasitas penetasan mungkin tersedia tapi kapasitas induk itik penghasil telur tetas yang jelas tidak tersedia,” terangnya.
Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2012.
diposkan oleh situs asli tanggal 6. February, 2012
sumber: http://www.poultryindonesia.com/news/utama-2/pemeliharaan-secara-intensif/
Telurnya jg dibikin telur asin kah?
BalasHapusdijual berapa ya? =)